Zakat Profesi

Published 17 November 2012 by yesisanrhadita

a.    Zakat

1.    Pengertian zakat!
Dilihat dari segi bahasa, kata zakat berasal dari kata zaka (bentuk masdar), yang mempunyai arti: berkah, tumbuh, bersih suci dan baik. Beberapa arti ini memang sangat sesuai dengan arti zakat yang sebenarnya. Dikatakan berkah, karena zakat akan membuat keberkahan pada harta seseorang yang telah berzakat. Dikatakan suci, karena zakat dapat mensucikan pemilik harta dari sifat tama’, syirik, kikir dan bakhil. Dikatakan tumbuh, karena zakat akan melipat gandakan pahala bagi muzakki dan membantu kesulitan para mustahiq. Demikian seterusnya, apabila dikaji, arti bahasa ini sesuai dengan apa yang menjadi tujuan disyari’atkan zakat. Dalam al-Qur’an, kata zakat sering disebut dengan kata shadaqah dan infak, di samping dengan kata zakat itu sendiri.
Jadi zakat menurut bahasa, berarti suci, berkah, bersih, pemberian si kaya kepada si miskin, kewajiban si kaya dan hak si miskin. Sedangkan pengertian zakat menurut syara’ (terminologi/istilah), dalam pandangan para ahli fiqh memiliki batasan yang beraneka ragam. Al-Syirbini mengartikan zakat sebagai:
“Nama bagi kadar tertentu dari harta benda tertentu yang wajib didayagunakan kepada golongan-gologan masyarakat tertentu.”
Adapun zakat menurut syara’, berarti hak yang wajib (dikeluarkan dari) harta. Mazhab Maliki mendefinisikan dengan, “mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai nisab (batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang yang wajib menerimanya (mustahiqq)-nya. Dengan cacatan, kepemilikkan itu penuh dan mencapai hawl (setahun).
Mazhab Hanafi mendefinisikan zakat dengan, “menjadikan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus sebagai milik orang yang khusus, yang ditentukan oleh syariat karena Allah swt.”
Menurut mazhab Syafi’i, zakat adalah sebuah ungkapan untuk keluarnya hartaatau tubuh seusai dengan cara khusus. Sedangkan menurut mazhab Hanbali, zakat adalah hak yang wajib (dikeluarkan) dari harta yang khusus pula.

2.    Sebutkan dalil perintah zakat!
a)    Dalil dari Qur’an
وَأقِيْمُوا الصَّلَو ةَ وَأَ تُوْ الزكَو ةَ وَارْ كَعُوْ مَعَ الرَّا كِعِيْنَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklalah beserta orang-orang yang rukuk. (QS. Al-Baqarah:43).

لصَّلوةَوَيُؤْتُوالزَّكوةَوَذَلِكَ وَيُقِيْمُوا ءَحُنَفَا لدِّيْنَ لَهُ مُخْلِصِنَ اُمِرُوْاِلاَّلِيَعْبُدُوالله وَمَا
القَيِّمَةِ دِيْنُ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat;dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (QS. Al-Bayyinah:5).

وَاَقِمْنَ الصَّلو ةَوَاتِينَ الزَّكوةَ وَاَطِعْنَ الله وَرَسُولَهُ  اِنَّمَايُريْدُاللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُالرِّجْسَ اَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا
“Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab:33).

.يُوْقِنُوْنَ جِرَةِهُمْ بِالاالزَّكوةَوَهُمْ الصَّلَوةَوَيُؤْتُونَ يُقِيْمُنَ الَّذِيْنَ
الْنمُفْلِحُونَ هُمُ وَاُولكَ بِّهِمْ رَّمَّنْ هُدًى عَلَى اُولَكَ
“yaitu orang-orang yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan mereka yang menyakini adanya akhirat. Mereka orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan-nya dan mereka itulah orang-orang beruntung. (QS. Luqman:4-5).

ءَاَشْفَقْتُمْ اَنْ تُقَدِّمُوْابَيْنَ يَدَيْ نَجْوكُمْ صَدَقتٍ  فَاِذْلَمْ تَفْعَلُوْاوَتَابَاللهُ عَلَيْكُمْ فَاَقِيْمُاالصَّلوةَوَاَتُواالزَّكوةَوَاَطِيْعُوااللهَ وَ رَسُولَهُ وَاللهُ خَبِيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ
“Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum melakukan pembicaraandengan Rasul? Tetapi jika kamu tidak melakukannya dan Allah telah memberi ampun kepadamu, mka laksanakanlah shalat, dan tunaikanlah zakat serta taatlah kepada Allah dan Rasulnya! Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah:13)

وَآَقِيْمُوْا الصَلوةَ وَاتُوْا الزَّكوةَوَآَطِيْعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُم تُرْحَمُونَ        “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An-Nur:56).

…وَأَقِيْمُوا الصَّلوةَ وَاتُوْا الزَّكاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيْلً مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
“…dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling,”(QS. Al-Baqarah:83).

فَإِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلواةَ وَاتُوا الزَّكاةَ فَاِخْوَا نُكُمْ فِى الدِّيْنِ وَنُفَصِّلُ اْلا يتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At-taubah:11).
…كُمْ تَا اءَي  الَّذِاللهِ  مَالِ مِنْ وَءَاتُوْهُمْ …
“…dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang diserahkan-Nya kepadamu…” (QS. An-Nur:33).

b)    Dalil dari hadits:
“Dari Abu Ma’bad dari Ibnu ‘Abbas ridla Allah kepada keduanya bahwa sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda ketika mengutus Mu’adz ra, ke Yaman. Ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Maka jika ini telah mereka ta’ati, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkanbagi mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Maka jika ini telah mereka ta’ati, sampaikanlah bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada mereka pada harta0benda mereka, diambil dari orang kaya di antara mereka, lalu dikembalikan kepada yang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari)
“Dari Sa’id al-Tha’yyi ‘Abi al-Bukhtariyyi, ia berkata bahwa Abu Kabsyah telah mendengar Rasulullah saw bersabda: ada tiga perkara yang saya bersumpah benar-benar terjadi akan saya ceritakan kepadamu, maka ingatlah baik-baik yaitu tidak akan berkurang harta karena berzakat…” (HR. At-Turmudzi).

3.    Dalam kajian fiqh klasik apa saja yang wajib dikelurkan zakatnya!
Menurut al-Jaziri, para ulama mazhab empat secara ittifaq mengatakan bahwa jenis harta yang wajib dizakatkan ada lima macam, yaitu:
1)    Binatang ternak (unta, sapi, kerbau, kambing/domba)
2)    Emas dan perak
3)    Perdagangan
4)    Pertambangan dan harta temuan
5)    Pertanian (gandum, kurma, anggur)
Menurut Ibnu Rusyd, menyebutkan empat jenis yang wajib dizakati, yaitu:
1)    Barang tambang (emas dan perak yang tidak menjadi perhiasan).
2)    Hewan ternak yang tidak dipekerjakan (unta, lembu, dan kambing)
3)    Biji-bijian (gandum dan jelai/sya’ir)
4)    Buah-buahan (kurma dan anggur kering)

4.    Dari masing-masing yang wajib dizakatkan itu, jelaskan nisab dan kadar yang harus dikeluarkan!
Dijelaskan dalam tabel dibawah ini:
No    Jenis harta    Nisab    Kadar    Waktu    Ket

1.
Binatang ternak

1.Unta

5 ekor
25 ekor
1 ekor kambing
1 ekor unta

1 tahun
Selanjutnya tiap 30 ekor kadar zakatnya tanbahan 1ekor umur 1tahun dan tiap tambah 40ekor kadar zakat tambah 1 ekor umur 2 tahun setiap pertambahan 5ekor zakatnya 1ekor.

2.Sapi, kerbau

30 ekor
40 ekor
60 ekor
70 ekor
1 ekor umur 1tahun
1 ekor umur 2tahun
2 ekor umur 1tahun
2 ekor umur 2tahun
1 tahun
Selanjutnya tiap 30ekor kadar zakatnya tambahan 1ekor umur 1tahun.

3. Kambing

40-120 ekor
121-200 ekor
201-300 ekor
1 ekor
2 ekor
3 ekor
1 tahun
Selanjutnya tiap 100ekor, kadar zakatnya 1 ekor.

2.
Emas
Perak

94 gr emas murni
672gr perak murni

2,5 %
2,5 %

1 tahun

3.
Perdagangan
94 gr emas murni
2,5 %
1 tahun

4.
Biji-bijian (gandum dan jelai/syi’ai)
750 kg beras/1.350 kg gabah
5%-10%

Tiap panen

10%  jika airnya susah

5.
Buah-buahan (kurma dan anggur kering)
750 kg beras/1.350 kg gabah
5%-10%

Tiap panen

6.
Pertambangan dan harta temuan

94gr emas senilai 94 gr emas perak senilai 672 gr perak

2,5 %
1 tahun

b.    Profesi
1.    Jelaskan pengertian profesi!
Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas menjadi kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keahlian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut. .
2.    Sebutkan dalil profesi
وَلاَتَيَمَّمُو الاَرْضِ مِّنَ وَمِمَّااَخْرَجْنَالَكُم مَاكَسَبْتُم طَيِّبَتِ مَنُوااَنْفِقُوامِنْ ايايُّهَاالَّذِيْنَ
حَمِيْدُغَنِيٌّ اللهَ وَعْلَمُوااَنَّ افِيْهِ تُغْمِضُو اِلاَّاَنْ خِذِيْهِ بِا وَلَسْتُم تُنْفِقُونَ مِنْهُ االْخَبِيْثَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Mahaterpuji. (QS. Al- Baqarah: 267).
Dalam ayat diatas, Allah menjelaskan bahwa segala hasil usaha yang baik-baik wajib dikeluarkan zakatnya. Termasuk pendapat para pekerja dari gaji atau pendapatan dari profesi sebagai dokter, konsultan, seniman, akunting, notaris, dan sebagainya. Imam Ar-Razi berpendapat bahwa konsep “hasil usaha” meliputi semua harta dalam konsep menyeluruh yang dihasilkan oleh kegiatan atau aktivitas manusia.
وَلْمَحْرُوْمِ لِ لِّلسَّاحَقٌّ اَمْوَالِهِمْ فِيْ وَ
“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak memeinta”. (QS. Az-Zariyat: 19)

امَنُو يْنَ لَّذِّ فَا فِيْهِ مُسْتَخْلَفِيْنَ مِمَّا فِقُوْنْوَاَ وَرَسُوْلِهِ للهِ ابِا مِنُو اَ
كَبِيْرٌاَجْرٌ الَهُموَاَنْفَقُوْامِنْكُمْا
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (dijalan Allah) sebagian harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memproleh oleh pahala yang besar”. (QS Al-Hadid: 7)

وَمُخْتَلِفًااُكُلُهُ وَلزَّرْعَ وَّالنَّخْلَ وَّغَيْرَمَعْرُوْشَتٍ  مَعْرُوشَتٍ اَنْشَاَجَنَّتٍ هُوَلَّذِي
يَوْوَاتُواحَقَّهُ اِذَآاَثْمَرَثَمَرِهِ كُلُوامِنْ  وَّغَيْرَمُتَشَابِهٍ مُتَشَابِهًا وَالرُّمَّانَ الزَّيْتُونَ
الْمُسْرِفِيْنَ لاَيُحِبُّ وَلاَتُسْرِفُوْااِنَّهُ  حَصَادِهِ مَ
“Dan dialah yang menjdikan tanaman-tanaman yang merambat, pohon kurma tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delimayang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memtik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”(QS. Al-An’am: 141)
Abu ‘Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh penghasilan “ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya”. “Abu ‘Ubaid juga meriwayatkan bahwa Umar Bin Abdul Aziz memberi upah kepada pekerjanya dan mengambil zakatnya.”(DR Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, 470-472)

3.    Apa pemikiran yang mendasari zakat profesi!
Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu), oleh karenanya bentuk pendapatan ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan “zakat”. Lain halnya dengan bentuk pendapatan yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan, mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail.
Zakat profesi merupakan ijtihad para ulama di masa kini yang nampaknya berangkat dari ijtihad yang cukup memiliki alasan dan dasar yang juga cukup kuat. Akan tetapi tidak semua ulama sepakat dengan hal tersebut.
Diantara ulama kontemporer yang berpendapat adanya zakat profesi yaitu Syaikh Abdur Rahman Hasan, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Abdul Wahab Khalaf dan Syaikh Yusuf Qaradhawi. Mereka berpendapat bahwa semua penghasilan melalui kegiatan profesi dokter, konsultan, seniman, akunting, notaris, dan sebagainya, apabila telah mencapai nishab, maka wajib dikenakan zakatnya. Para Peserta Muktamar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait pada 29 Rajab 1404 H / 30 April 1984 M juga sepakat tentang wajibnya zakat profesi bila mencapai nishab, meskipun mereka berbeda pendapat dalam cara mengeluarkannya. Pendapat ini dibangun berdasarkan :
Pertama, Ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta untuk dikeluarkan zakatnya, seperti dalam QS. At-Taubah: 103, QS. Al-Baqarah: 267, dan QS. Adz-Zaariyat: 19, demikian pula penjelasan Nabi SAW yang bersifat umum terhadap zakat dari hasil usaha/profesi.
Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa segala hasil usaha yang baik-baik wajib dikeluarkan zakatnya. Dalam hal ini termasuk juga penghasilan (gaji) dari profesi sebagai dokter, konsultan, seniman, akunting, notaris, dan sebagainya. Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an juga penah menyatakan bahwa nash ini mencakup seluruh hasil usaha manusia yang baik dan halal dan mencakup pula seluruh yang dikeluarkan Allah SWT dari dalam dan atas bumi, seperti hasil-hasil pertanian, maupun hasil pertambangan seperti minyak.
Karena itu nash ini mencakup semua harta baik yang terdapat di zaman Rasulullah SAW maupun di zaman sesudahnya. Semuanya wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan dan kadar sebagaimana diterangkan dalam sunnah Rasulullah SAW, baik yang sudah diketahui secara langsung, maupun yang diqiyaskan kepadanya (Fi Zilalil Qur’an: Juz 1, hal 310-311).
Imam Al-Qurtubi dalam Tafsier Al-Jaami’ Li Ahkaam Al-Qur’an pernah mengutip perkataan Muhammad bin Sirin dan Qathadaah yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata-kata “Amwaal” (harta) pada QS. Adz-Zaariyaat: 19, adalah zakat yang diwajibkan, artinya semua harta yang dimiliki dan semua penghasilan yang didapatkan, jika telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya. (Tafsir Al-Jaami’ Li Ahkaam Al-Qur’an, Jilid 9, hal 37).
Kedua : Berbagai pendapat para Ulama terdahulu maupun sekarang, meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda. Sebagian dengan menggunakan istilah yang bersifat umum yaitu “al-Amwaal”, sementara sebagian lagi secara khusus memberikan istilah dengan istilah “al-maal al-mustafaad” seperti terdapat dalam fiqh zakat dan al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Dimana mereka mengatakan bahwa harta tersebut wajib dikeluarkan zakatnya.
Abu Ubaid meriwayatkan dari Hubairah bin Yarim berkata: “Adalah Ibnu Mas’ud ra memberi kami al-‘athaa’ lalu beliau mengambil zakatnya” (Al-Amwaal, hal. 412).
Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab dalam kitab Muwatha’ berkata: “Yang pertama mengambil zakat dari al-a’thiyah adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan” (Muwatha’ ma’al Muntaqaa juz 2 hal 95).
Ketiga : Dari sudut keadilan yang merupakan ciri utama ajaran Islam penetapan kewajiban zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas, dibandingkan dengan hanya menetapkan kewajiban zakat pada komoditi-komoditi tertentu saja yang konvensional.
Keempat : Sejalan dengan perkembangan kehidupan umat manusia, khususnya dalam bidang ekonomi, kegiatan penghasilan melalui keahlian dan profesi ini akan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan akan menjadi kegiatan ekonomi yang utama, seperti terjadi di negara-negara industri sekarang ini. (Ruuh al-Dien al-Islamy, hal. 300)

4.    Berapa nisab dan kadar zakat profesi!
No    Jenis harta    Nisab    Haul    Kadar    Keterangan
1.
Pendapatan/perdagangan/ tabungan, pendapatan gaji/honor dan lain-lain,industri barang konveksi/makanan, kerajinan, meubel, dll., industri jasa: notaris,konsultan, dokter, travel, perantara perdagangan dll, perdagangan: pertokoan, kantin, eksport/import, properti penjualan dan penyewaan.
a.
d.    Senilai 94 gram emas murni    1 tahun    2,5%    Yang dinilai semua kekayaan pada saat menunaikan zakat, cara menghitung dengan menjumlah pendapatan 1 th dan dapat ditunaikan pada saat menerima

Dalam ketentuan zakat profesi terdapat beberapa kemungkinan dalam menentukan nishab, kadar, dan waktu mengeluarkan zakat profesi. Hal ini tergantung pada qiyas (analogi)  yang dilakukan :
Yang pertama, Jika dianalogikan pada zakat perdagangan, maka nishab, kadar, dan waktu mengeluarkannya sama dengannya dan sama pula dengan zakat emas dan perak. Nishabnya senilai 85 gram emas, kadar zakatnya 2,5 % dan waktu mengeluarkannya setahun sekali, setelah dikurangi kebutuhan pokok. Cara menghitung misalnya : jika si A berpenghasilan Rp 5.000.000,00 setiap bulan dan kebutuhan pokok perbulannya sebesar Rp 3.000.000,00 maka besar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5 % x 12 x Rp 2.000.000,00 atau sebesar Rp 600.000,00 pertahun /Rp 50.000,00 perbulan.
Yang kedua, Jika dianalogikan pada zakat pertanian, maka nishabnya senilai 653 kg padi atau gandum, kadar zakatnya sebesar 5 % dan dikeluarkan pada setiap mendapatkan gaji atau penghasilan. Misalnya sebulan sekali. Cara menghitungnya contoh kasus di atas, maka kewajiban zakat si A adalah sebesar 5% x 12 x Rp 2.000.000,00 atau sebesar Rp 1.200.000,00 pertahun / Rp 100.000,00 perbulan.
Yang ketiga, Jika dianalogikan pada zakat rikaz, maka zakatnya sebesar 20 % tanpa ada nishab, dan dikeluarkan pada saat menerimanya. Cara menghitungnya  contoh kasus di atas, maka si A mempunyai kewajiban berzakat sebesar 20 % x Rp 5.000.000,00 atau sebesar Rp 1.000.000,00 setiap bulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: